Portal berita terkini yang menyajikan berita terbaru di Borneo maupun skala Nasional. Dapatkan update berita hari ini.

AWAS, Perubahan Musim! Saatnya Siaga Demam Berdarah Dengue (DBD)

awas-perubahan-musim-saatnya-siaga-demam-berdarah-dengue-dbd

Samarinda- Peralihan musim atau pancaroba kini tengah berlangsung pada sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, kembali memunculkan peringatan dini terhadap potensi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD). Perubahan cuaca yang tidak menentu, disertai suhu udara yang naik-turun dan munculnya genangan air akibat hujan sesaat, menciptakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penular virus dengue.

Ilustrasi Sebaran Data Laporan DBD per Juli 2026 


Dinas Kesehatan provinsi Kalimantan Timur di tengah-tengah rapat Kordinasi Evaluasi Kematian akibat DBD secara daring di bulan Juli 2026,  dalam  kesempatan mengajak masyarakat untuk tidak lengah menghadapi masa peralihan musim ini. Menurut Kepala Dinkes KALTIM, Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ, M.Kes “Masyarakat awam perlu mengetahui tanda penting DBD dan bagi para tenaga kesehatan lingkup provinsi ataupun kabupaten/kota di Kalimantan Timur perlu siap siaga atas segala kondisi” Pada hal ini turut ditekankan terkait pentingnya deteksi dini, penanganan pasien yang cepat dan tepat, serta koordinasi yang kuat antara fasilitas pelayanan kesehatan. Secara medis, suhu hangat mempercepat siklus hidup nyamuk — mulai dari telur, jentik, hingga menjadi nyamuk dewasa — sekaligus mempercepat masa inkubasi virus dengue dalam tubuh nyamuk. Kombinasi ini membuat potensi penularan DBD meningkat signifikan selama masa pancaroba dibanding musim yang stabil.

Sidebar Banner
Dr. dr. H. Jaya Mualimin, Sp.KJ selaku Kadinkes Provinsi Kalimantan Timur

 

Data Nasional Jadi Alarm Bersama

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hingga Mei 2026 jumlah kasus DBD secara nasional telah mencapai 131.393 kasus dengan angka kematian sebanyak 544 jiwa. Kementerian Kesehatan turut mencatat bahwa perubahan suhu udara dan pola curah hujan yang tidak menentu berdampak langsung terhadap siklus hidup nyamuk penyebab DBD, dimana suhu lebih hangat mempercepat perkembangan nyamuk dari telur hingga dewasa dan mempercepat perkembangan virus dengue  dalam tubuh nyamuk, sehingga meningkatkan potensi penularan ke manusia.

Ilustrasi Sakit DBD 


Sejumlah daerah di Kalimantan turut melaporkan tren peningkatan kewaspadaan serupa. Sebagai contoh Dinas Kesehatan kota Samarinda dan Kabupaten Paser (Kalimantan Timur), misalnya, mengingatkan perubahan cuaca dari panas ke lembap menjadi kondisi yang mendukung percepatan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, sehingga otomatis potensi penyebaran DBD pun meningkat.

Kenali Gejala, Jangan Tunda Periksa

Sebagai bagian dari edukasi kesehatan masyarakat, berikut gejala DBD yang perlu diwaspadai:

  • Demam tinggi mendadak (bisa mencapai 39–40°C) selama 2–7 hari

  • Nyeri kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi

  • Mual, muntah, atau ruam kemerahan pada kulit

  • Tanda bahaya (warning signs) yang harus segera dibawa dalam fasilitas kesehatan: nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan gusi/hidung, lemas berlebihan, atau anak tampak rewel dan sulit dibangunkan

Demam tidak kunjung turun setelah beberapa hari, apalagi disertai tanda bahaya di atas, tidak boleh dianggap remeh sebagai demam biasa dan perlu segera diperiksakan ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.
 

Ajakan Gerakan 3M Plus

Lebih Lanjut, Kadinkes KALTIM dr. Jaya turut mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga hingga lingkungan RT/RW, untuk kembali menggiatkan gerakan 3M Plus sebagai langkah pencegahan paling efektif dan murah:

  1. Menguras tempat penampungan air secara rutin

  2. Menutup rapat wadah penampungan air

  3. Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan

  4. Plus: menggunakan lotion anti-nyamuk, memasang kelambu atau kawat kasa, memelihara ikan pemakan jentik, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian yang menjadi tempat nyamuk beristirahat

Kewaspadaan dini dan kerja sama lintas elemen masyarakat menjadi kunci untuk menekan potensi lonjakan kasus DBD selama masa peralihan musim ini. Jangan tunggu ada korban baru bertindak — pencegahan hari ini adalah perlindungan bagi keluarga dan lingkungan kita bersama.

Redaksi: dr. M. Iqbal Hisyam Qiroth (Staff PSDMS KAMMI KALTIMTARA)

Tags : Balikpapan Berau Bontang Samarinda Tenggarong Kalimantan Timur Kesehatan DBD DINAS KESEHATAN Tanah Grogot
Bagikan :

© PT Media Borneo Kekinian . All Rights Reserved. Design by HTML Codex