Opini - Oleh Rizal Kader KAMMI SAMARINDA
Hari raya Idul Fitri sudah di depan mata, momen kebahagiaan terutama bagi umat muslim tentunya, tapi menjelang momen itu masyarakat kaltim terkhusus samarinda selalu digelitik dengan persoalan tahunan yang meresahkan yaitu kenaikan harga bahan pokok.
Harga bahan pokok yang naik seakan menjadi budaya abadi mengakar di tengah masyarakat, seharusnya hal ini tidak sepantasnya dinormalisasikan dan diabaikan oleh pemerintah daerah, karena efek berantai yang terjadi dirasakan masyarakat cukup vital.
Dampak pasti selalu dirasakan seperti beban pengeluaran rumah tangga dan terpukulnya kondisi ekonomi masyarakat yang akan terasa pasca Hari Raya Idul Fitri karena porsi belanja pangan besar yang harus tetap dipenuhi demi kebutuhan pokok masyarakat, belum lagi dari sisi masyarakat yang tidak ikut merayakan hari raya juga terkena dampaknya.
Selain kebutuhan pangan, masyarakat juga harus mempersiapkan berbagai keperluan lain, sehingga kenaikan harga bahan pokok akan terasa jauh lebih berat dibandingkan hari-hari biasa.
KAMMI Samarinda mengkritik keras Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kota, mengatakan bahwa kondisi harga masih stabil dan aman, namun nyatanya pernyataan tersebut membuktikan adanya jarak antara pemerintah dan masyarakat.
Bagi masyarakat yang harus membeli kebutuhan pokok setiap hari, kenaikan harga sekecil apa pun tetap terasa berat, apalagi ketika terjadi secara bersamaan pada beberapa komoditas.
Mayoritas komoditas penting seperti cabai, bawang, daging sapi, daging ayam, telur, hingga beberapa kebutuhan pangan lainnya dilaporkan mengalami kenaikan di beberapa daerah, termasuk di Kota Samarinda.
Sejumlah warga turut menghadapi lonjakan harga. Amalia Setyo, warga Samarinda, mengatakan harga telur naik dan bawang merah dalam satu minggu terakhir. Hal serupa disampaikan Dina Riyani, mahasiswi universitas mulawarman, yang merasakan kenaikan harga terhadap bahan-bahan pokok seperti cabai dari semula 55rb/kg menjadi 80rb/kg.
Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana realita yang terjadi, harga mayoritas kebutuhan pokok telah melampaui harga acuan dan mulai memberatkan, kebutuhan rumah tangga meningkat menjelang Hari Raya Idul fitri.
Setiap tahun, kondisinya sama, masalahnya sama, alasannya sama, responnya sama, seperti meningkatnya permintaan, keterlambatan distribusi, terbatasnya pasokan, serta ketergantungan pada daerah lain. Pola yang sama terus terjadi lagi dan lagi, maka persoalan ini tidak bisa lagi dianggap sebagai dinamika pasar semata, tapi sistem pengendalian harga dan ketahanan pangan daerah belum berjalan secara maksimal.
Kenaikan harga yang selalu rutin terjadi layaknya event tahunan ini, menunjukkan selama ini solusi dan langkah diambil oleh pemerintah daerah belumsampai di titik akar masalah.
Pemerintah daerah sering menyebut pengendalian inflasi sudah dilakukan lewat pemantauan harga rapat koordinasi, serta operasi pasar. Tapi langkah-langkah itu hanya bersifat reaktif dan dilakukan setelah kejadian, saat harga mulai naik di pasaran. Seharusnya, pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada penyelesaian tapi juga pencegahan. Padahal lonjakan permintaan menjelang hari raya merupakan peristiwa yang terjadi setiap tahun dan seharusnya sudah dapat diprediksi jauh hari.
Pengendalian harga yang dilakukan selama ini sama layaknya pekerjaan tambal sulam, cepat menutup lubang kecil, tetapi tidak pernah memikirkan bagaimana agar jalan yang ditutup cukup kuat agar tidak berlubang lagi, dan cukup kuat untuk menghadapi tekanan yang datang setiap tahun. Ketika permintaan meningkat, lubang lama kembali terbuka, dan masyarakat lagi-lagi yang harus menanggung akibatnya.
Kondisi di Kota Samarinda dan sebagian wilayah Kalimantan Timur, memperlihatkan kondisi ketahanan pangan daerah masih sangat bergantung pada pasokan dari luar. Lemahnya perencanaan jangka panjang dalam penguatan ketahanan pengendalian harga daerah ini perlu menjadi perhatian dan evaluasi.
Komoditas seperti daging, telur, cabai, hingga beberapa bahan pangan lainnya masih didatangkan dari daerah lain, sehingga ketika terjadi gangguan distribusi, harga langsung mengalami kenaikan di tingkat pasar. Ketergantungan yang tinggi pada pasokan luar daerah membuat stabilitas harga menjadi sangat rentan, terutama pada saat momentum hari besar seperti sekarang yang akhirnya permintaan meningkat.
Maka KAMMI Samarinda mendorong pemerintah daerah untuk mendorong upaya memperkuat produksi lokal dan membangun kemandirian pangan daerah, evaluasi perencanaan kebijakan, penguatan produksi dalam daerah, pengawasan distribusi, serta koordinasi antar instansi yang lebihefektif. Tanpa perbaikan yang nyata dan terukur, kenaikan harga menjelang hari raya akan terus menjadi siklus tahunan yang berulang dan selalu merugikan masyarakat samarinda.
Masyarakat berharap bahwa setiap tahun ada perbaikan, bukan sekadar pengulangan masalah yang sama. Oleh karena itu, ini adalah peringatan serius dari KAMMI Samarinda kepada pemerintah daerah, untuk melakukan tindakan solutif yang konkret untuk menangani kenaikan harga yang terus terjadi tiap tahunnya yang menyusahkan masyarakat di momentum yang seharusnya mereka
bisa bahagia tenang.
Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia!
Hidup Perempuan Indonesia!
Jl. Merdeka 3 No. 23, Rt. 86, Kec. Sungai Pinang, Kota Samarinda, Kode Pos : 75117
0895340878244
mediaborneokekinian@gmail.com
© PT Media Borneo Kekinian . All Rights Reserved. Design by HTML Codex